Jarum jam menunjukkan pukul 16.20. Hujan deras sejak tadi siang belum juga reda. Sampai-sampai jalan di depan rumah Wahyu digenangi air setinggi pinggang orang dewasa. Banyak anak kecil bermain dalam genangan air itu tanpa mempedulikan bahayanya. Dan tetap saja mereka tertawa gembira segembira-gembiranya. Tidak kalah dengan serunya bermain di taman bermain paling terkenal di ibukota. Wahyu duduk di teras rumahnya sambil memandangi anak-anak itu sambil sesekali melihat layar handphonenya. Di layar handphonenya tertera sebuah kontak, berisi nama dan nomor telepon. “Dian. 085726369777.”
“Apa aku SMS dia aja ya? Eh.. tapi kan nggak enak.” Tanyanya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala. Selama hampir tiga puluh menit dia belum beranjak dari tempat duduknya. Wahyu masih terus memikirkan hal tadi tapi dia belum mengambil keputusan.
***
Wahyu adalah seorang mahasiswa semester empat di Universitas Impian. Dia adalah mahasiswa yang biasa saja dalam hal kepintaran tetapi bisa dibilang dia adalah mahasiswa yang pantang menyerah. Tiga tahun lalu saat lulus dari SMA dia mendaftar di Universitas Impian melalui berbagai macam tes masuk. Mulai dari jalur tanpa tes, tes mandiri, dan jalur SNMPTN. Tetapi takdir menentukan hal lain. Dari berbagai jenis tes yang dia ikuti tidak ada satu pun yang berakhir manis. Alhasil dia mengikuti saran orang tuanya untuk kuliah di Universitas Harapan Baru (UHB) dan mencoba mendaftar lagi di tahun berikutnya. Dan akhirnya pada tahun berikutnya Wahyu diterima di Universitas Impian. Wahyu sangat senang karena mimpinya dapat terwujud.
***
Kehidupan perkuliahan Wahyu berubah drastis. Dari yang dulunya banyak tugas jadi sekarang yang banyak menganggurnya alias sedikit sekali mendapat tugas. Hari-hari menganggurnya banyak diisi dengan berselancar di dunia maya terutama media sosial.
“Ah... teman-temanku apa kabar ya? Aku kangen sekali sama mereka.” Wahyu membuka halaman grup di sebuah media sosial yang berisi teman-temannya di kampus yang dulu.
“Siapa ini ya, kok kayaknya dulu nggak pernah lihat di kampus. Padahal hampir satu angkatan aku kenal semua. Add aja lah siapa tahu aku yang lupa.” Selang beberapa menit Dian menerima friend request dari Wahyu.
“Makasih ya.. Salam kenal ” Wahyu mengirimkan pesan ke akun Dian. “Sama-sama.” Senyum terpancar dari wajah Wahyu setelah menerima balasan dari Dian.
“Anak UHB ya? Tapi kok aku gak pernah lihat. Dulu aku juga sempat kuliah di situ dua semester lho.”
Ternyata dari sekian banyak kelas dan mata kuliah, mereka tidak pernah berada di kelas yang sama. Selanjutnya mereka saling memperkenalkan diri dan dimulailah pertemanan mereka.
***
Hari demi hari setiap kali Wahyu online di media sosial, perhatian Wahyu selalu tertuju pada Dian. Dia mulai me-like dan mengomentari status yang dibuat Dian. Dan sesekali saat keduanya online, Wahyu memulai chat. Wahyu mulai terlihat suka pada Dian. Setelah beberapa bulan hanya berkomunikasi lewat dunia maya, Wahyu mulai berpikir untuk meminta nomor telepon Dian.
“Ehm... Eh... Anu... minta nomor hp kamu boleh nggak?” Belum juga Dian membalas pesan itu, Wahyu mengirim pesan lagi. ”Kalau nggak bolek juga nggak apa-apa kok. Maaf ya.”
“Lho ngapain minta maaf? Nggak apa-apa kok. Aku orangnya santai. Ini nomor hp-ku: 085726369777. Tapi maaf ya, soalnya kadang aku bales SMS nya lama, hehe.” Seketika berubahlah raut wajah Wahyu. Dia terlihat begitu bahagia. Hatinya berbunga-bunga, berjuta rasanya. Inilah awal Wahyu mulai berpikir kalau Dian juga suka padanya.
***
Mereka mulai berkomunikasi lewat SMS. Wahyu sering mengirim SMS kepada Dian untuk sekedar basa-basi dan mencoba mengenal Dian lebih jauh. Wahyu senang sekali karena SMS yang dia kirim selalu di balas oleh Dian. Mereka mulai membicarakan hobi dan kesenangan masing-masing.
“Oh... Kamu hobi nulis ya? Beda tipis dong sama aku. Aku sukanya baca. Ntar tulisanmu aku baca deh... hahaha.” Wahyu mulai mencoba mencocok-cocokkan hal-hal yang dianggapnya sebagai sebuah pertanda cinta.
“Kamu suka baca ya? Berarti kamu suka koleksi buku dong? Kapan-kapan pinjam bukumu ya...” SMS balasan dari Dian ini semakin membuat hati Wahyu kacau balau, tidak karuan. Wahyu merasa bahwa ini benar-benar sebuah pertanda cinta. Dia mulai menguntai simpul pertanda cinta itu dalam hatinya.
“Iya deh. Nanti kalau aku ke main ke kampusmu aku bawain.” Balasnya dengan penuh semangat.
***
Hari itu Wahyu pergi ke kampus UHB untuk bertemu dengan Dian. Tetapi sebelumnya mereka tidak membuat janji untuk bertemu. Sebenarnya Wahyu gugup karena ini untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Dian. Dan dia memutuskan untuk tidak membuat janji agar nanti kalau bertemu kelihatannya seperti tidak disengaja dan dia tidak terlihat gugup. Hampir empat jam Wahyu berada di kampus dan bertemu dengan teman-teman lamanya, tetapi dia belum juga melihat Dian. Hari juga sudah semakin sore. Akhirnya Wahyu memutuskan untuk mengirim SMS kepada Dian.
”By the way, aku di kampusmu lho, kalau mau pinjam buku bisa.”
Ternyata Dian sudah pulang. Hilanglah harapan untuk bertemu hari ini. Tetapi Wahyu berpikir lain, ”Mungkin dia juga gugup, sama seperti aku. Dia bilang kalau sudah pulang padahal masih ada di kampus.” Wahyu sibuk sekali memikirkan hal itu.
Dia kembali melanjutkan untaian simpul pertanda cinta di hatinya. Dia sibuk membuat ilusi dalam dirinya untuk membuktikan bahwa apa yang ada dalam pikirannya memang benar. Padahal sebenarnya Dian memang sudah benar-benar pulang ke rumah. Dian tidak bohong sama sekali.
***
Beberapa bulan kemudian Wahyu melakukan hal yang sama dengan sebelumnya. Pergi ke kampus Dian, tidak janjian, lalu mengirim SMS setelah beberapa jam di kampus. Lagi lagi, mereka tidak bertemu. Kali ini Dian bilang kalau dia sedang ada kuliah. Lagi lagi juga, Wahyu berpikir bahwa itu adalah alasan Dian saja. Wahyu berpikir bahwa Dian gugup untuk bertemu dengannya.
Benar-benar menggelikan, Wahyu sibuk merangkai berbagai kejadian, peristiwa tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Wahyu selalu membesar-besarkan sebuah hal sepele yang dianggapnya sebagai pertanda cinta tanpa mengetahui kenyataannya.
***
Seperti biasa, Wahyu berselancar di dunia maya, membuka situs media sosial favorit sambil memutar lagu-lagu kesukaannya. Dan tak lupa, dia membuka profil Dian.
Glek. Dia tersentak. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
”Apa? Dia baru saja jadian? Jadi selama ini?”
Wahyu terperangah. Puzzle yang telah ditata sedemikian rupa selama ini hancur berkeping-keping hanya dalam satu kedipan mata. Semua anggapan dan pertanda cinta hilang tersapu angin dari kipas angin miliknya yang terasa berputar semakin kencang. Dia tidak lagi mendengar suara dari lagu yang diputarnya tadi. Dia terkapar di atas kursi. Menyadari apa yang selama ini dipikirkannya hanyalah sebuah ilusi. Tidak lebih, tidak kurang. Dia dikhianati hatinya sendiri. Miris.
“Iya ya. Kami kan belum pernah ketemu sama sekali. Bagaimana mungkin dia suka padaku.”
“Ah! Bodohnya aku... T.T”
*Terinspirasi oleh Tere Liye
*Terinspirasi oleh Tere Liye
Tidak ada komentar :
Posting Komentar